Murniasihmu

Mari Belajar Ilmu Pasti : Manfaatkan Internet Sebagai Media Pembelajaran

CERPEN

AKU  MAU  KEMBALI

 Pucuk cemara tua menari di sela-sela pancaran sinar rembulan. Berkatalah hati kecilku silih berganti tentang apa yang dirasakan.

“Aku cinta dan aku rindu.”

Aku ingat betul, bisikan itu pernah menggetarkan bibirku menjelajahi hati dalam nadi kelam. Jerit tangisku memenuhi riak gelombang di pinggir pantai. Aku sekarang sedang terendam dalam lautan lumpur derita. Aku berada dan tinggal dalam kesendirian, terpaku dalam kegelapan.

“Aku telah jauh melangkah meninggalkan-Mu,” kataku dalam hati. Aku betul-betul menyadari hal ini, dan aku ingat betul akan semua tindak tandukku.

Lima tahun yang lalu, disebuah gubuk kecil aku hidup bersama istri dan kedua putriku. Aku hidup dalam kesederhanaan. Cinta dan kasih kami pada-Mu, membuat kami merasa kaya, jauh lebih kaya dari kaum bangsawan.

“Aku berterima kasih pada-Mu, engkau berikan semua nikmat ini pada kami.” Itu yang selalu kubisikan pada-Mu.

Hari berganti hari, cinta dan kasihku semakin tebal pada-Mu. Begitu juga cinta  kasih istri dan putri-putriku.

“Aku mohon perlindungan , berkat-Mu pada semua orang yang dekat dengan ku,”  ku panjatkan doa ini.

Dua tahun kulalui perjalanan hidupku, aku sangat berkecukupan, kedamaian selalu menyelimuti keluargaku. Suatu ketika perubahan besar terjadi. Badai dan angin topan merenggut semua yang aku punya tak tersisa sedikitpun. Rumah, istri dan putriku hilang dan lenyap oleh amukannya. Kesana-kemari aku melangkah, aku tak menemukan jejak.

“Kemana kuasa-Mu ? kenapa semua ini kau berikan padaku? Apa salahku ?” Jeritku dalam kesedihan.

Aku marah…… dan sangat marah dengan kadaan. Aku tak percaya lagi pada-Mu, engkau telah mengambil semua yang aku punya. Engkau hancurkan cinta dan kasihku pada-Mu. Semenjak itu aku hidup sebatang kara.

Hari-hari kulalui sebatang kara. Satu bulan berlalu, kini aku bangkit. Bangkit dari kesedihan, dan kulangkahkan kaki ini. Hatiku penuh dengan kebencian.

“Burhan……!” Ku dengar ada yang memanggil namaku. Kuarahkan pandangan ku , mengintai dari mana datangnya suara itu.

“Burhan,,,,,, benarkah itu kamu?” Suara itu semakin jelas dan makin dekat.

“Bondan,,,,,,,!” Aku langsung menyapanya.

Bondan temanku yang sudah tak pernah berjumpa semenjak aku menikah. Dia kelihatan sangat berbeda.

“ Burhan ngapai kamu disini ?” Tanya dia.

“ Aku…. Sebatas jalan-jalan saja!” Jawabku. Aku tak mau memperlihatkan kesedihan yang menimpaku, karna aku bermaksud tuk melupakan semuanya.

“ Apa pekerjaan mu sekarang ?” Kata Bondan, seolah dia ingin menawarkan pekerjaan. Entah apa itu.

“ Aku nggak kerja !” Kataku, sambil berharap mendapatkan pekerjaan.

“ Kamu mau bekerja denganku?”

“ Ia…….!” Aku cukup senang, aku ikut dengan Bondan. Sebenarnya aku tahu Bondan orang seperti apa, pekerjaannya apa. Kabar terakhir aku dengar dia sudah punya kaki tangan dua puluh orang. Mungkin aku jadi yang kesekian. Ah,,,,, tak masalah buatku.

Aku tinggal di rumah Bondan. Rumahnya cukup besar, kurasa bisa memuat puluhan orang di dalamnya. Lima hari aku mendapat penjajalan, trik-trik dalam melangkah,. Akhirnya sampai juga aku memulai pekerjaan yang telah aku terima.

“ Burhan malam ini, kamu sudah siap?”

“Ia aku siap..!” Dengan penuh percaya diri aku menjawabnya.

Aku merasa, aku bukan yang dulu lagi. Aku ambil paksa semua yang orang punya, seperti yang engkau lakukan padaku.

Aku buat semua orang menangis darah seperti yang engkau lakukan padaku.

Aku buat semua orang kesepian, seperti yang engkau lakukan padaku.

Kini langkahku semakin jauh dari-Mu, tapi aku tak pernah peduli.

Dua tahun sudah lamanya, aku bergelut dalam bidang ini. Aku merasa bangga atas apa yang aku lakukan. Aku ingin menunjukan, bahwa aku bisa lebih kejam dari-Mu.

“ Burhan,,,,,!” panggil Bondan.

“ Ia Bon, ada apa?” jawabku sambil mendekat.

“ Kita ada misi baru!”

“ Apa itu?” aku sedikit penasaran.

“ Besok malam misi kita keluar kota! Kamu dan anak buahku yang lain ikut dalam misi ini !” Aku tahu ini misi yang sangat berat. Dan resikonya sangat besar, nyawa sebagai taruhan. Tapi itu pekerjaanku sehari-hari.

“ Ia aku sudah siap, Bon !” jawabku sambil tersenyum.

Akupun bergegas menyiapkan semua persiapan, dan mempelajari trik-trik jitu untuk melumpuhkan mangsa.

“ Esok,,,,,, aku menjalankan misi baru!” Kataku, sambil kutatap semua perlengkapan yang sudah aku siapkan. Perasaanku sedikit berbeda. Malam ini hatiku tegang, resah dan bimbang. Seakan ada sesuatu yang menahan langkahku.

“Apa ini suatu pertanda?” Kataku dalam hati, ah…… untuk apa aku pikirkan. Aku acuhkan saja. Malam mulai larut, aku pun tertidur.

Pagi menjelang, aku pun berangkat bersama rombongan. Enam jam perjalanan akhirnya aku tiba di kota tujuan. Untuk sementara aku dan rombongan mencari tempat peristirahatan.

“Wah,,,,,,,, megah sekali!” Pikirku ketika lewat di depan rumah seorang pengusaha kaya. Hari semakin petang, jalanan semakin sepi. Kami pun beraksi dan menempati posisi yang sudah ditentukan. Aku menerobos masuk. Ku arahkan pandangan mataku menelusuri setiap sudut………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: