Murniasihmu

Mari Belajar Ilmu Pasti : Manfaatkan Internet Sebagai Media Pembelajaran

PANTUN

Peran pantun

Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.

Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

 

Struktur pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan. Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:

Air dalam bertambah dalam

Hujan di hulu belum lagi teduh

Hati dendam bertambah dendam

Dendam dahulu belum lagi sembuh

 

Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

 

Jenis-jenis Pantun

 

Pantun Adat

Menanam kelapa di pulau Bukum

Tinggi sedepa sudah berbuah

Adat bermula dengan hukum

Hukum bersandar di Kitabullah

 

Ikan berenang didalam lubuk

Ikan belida dadanya panjang

Adat pinang pulang ke tampuk

Adat sirih pulang ke gagang

 

Lebat daun bunga tanjung

Berbau harum bunga cempaka

Adat dijaga pusaka dijunjung

Baru terpelihara adat pusaka

Bukan lebah sembarang lebah

Lebah bersarang dibuku buluh

Bukan sembah sembarang sembah

Sembah bersarang jari sepuluh

 

Pohon nangka berbuah lebat

Bilalah masak harum juga

Berumpun pusaka berupa adat

Daerah berluhak alam beraja

 

Pantun Agama

Banyak bulan perkara bulan

Tidak semulia bulan puasa

Banyak tuhan perkara tuhan

Tidak semulia Tuhan Yang Esa

 

Daun terap di atas dulang

Anak udang mati dituba

Dalam kitab ada terlarang

Yang haram jangan dicoba

 

Bunga kenanga di atas kubur

Pucuk sari pandan Jawa

Apa guna sombong dan takabur

Rusak hati badan binasa

 

Asam kandis asam gelugur

Ketiga asam si riang-riang

Menangis mayat dipintu kubur

Teringat badan tidak sembahyang

 

Pantun Budi

Bunga cina di atas batu

Daunnya lepas kedalam ruang

Adat budaya tidak berlaku

Sebabnya emas budi terbuang

 

Diantara padi dengan selasih

Yang mana satu tuan luruhkan

Diantara budi dengan kasih

Yang mana satu tuan turutkan

Apa guna berkain batik

Kalau tidak dengan sujinya

Apa guna beristeri cantik

Kalau tidak dengan budinya

 

Sarat perahu muat pinang

Singgah berlabuh di Kuala Daik

Jahat berlaku lagi dikenang

Inikan pula budi yang baik

 

Anak angsa mati lemas

Mati lemas di air masin

Hilang bahasa karena emas

Hilang budi karena miskin

 

Biarlah orang bertanam buluh

Mari kita bertanam padi

Biarlah orang bertanam musuh

Mari kita menanam budi

 

Ayam jantan si ayam jalak

Jaguh siantan nama diberi

Rezeki tidak saya tolak

Musuh tidak saya cari

 

Jikalau kita bertanam padi

Senanglah makan adik-beradik

Jikalau kita bertanam budi

Orang yang jahat menjadi baik

 

Kalau keladi sudah ditanam

Jangan lagi meminta balas

Kalau budi sudah ditanam

Jangan lagi meminta balas

 

 

 

 

 

 

 

Pantun Jenaka

Pantun Jenaka adalah pantun yang bertujuan untuk menghibur orang yang mendengar, terkadang dijadikan sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan rasa tersinggung, dan dengan pantun jenaka diharapkan suasana akan menjadi semakin riang.

Contoh:

Di mana kuang hendak bertelur

Di atas lata dirongga batu

Di mana tuan hendak tidur

Di atas dada dirongga susu

 

Elok berjalan kota tua

Kiri kanan berbatang sepat

Elok berbini orang tua

Perut kenyang ajaran dapat

 

Sakit kaki ditikam jeruju

Jeruju ada didalam paya

Sakit hati memandang susu

Susu ada dalam kebaya

 

Naik kebukit membeli lada

Lada sebiji dibelah tujuh

Apanya sakit berbini janda

Anak tiri boleh disuruh

 

Orang Sasak pergi ke Bali

Membawa pelita semuanya

Berbisik pekak dengan tuli

Tertawa si buta melihatnya

 

Jalan-jalan ke rawa-rawa

Jika capai duduk di pohon palm

Geli hati menahan tawa

Melihat katak memakai helm

 

Limau purut di tepi rawa,

buah dilanting belum masak

Sakit perut sebab tertawa,

melihat kucing duduk berbedak

 

jangan suka makan mentimun

karna banyak getahnya

hai kawan jangan melamun

melamun itu tak ada gunanya

 

Pantun Kepahlawanan

Pantun kepahlawanan adalah pantun yang isinya berhubungan dengan semangat kepahlawanan

 

Adakah perisai bertali rambut

Rambut dipintal akan cemara

Adakah misai tahu takut

Kamipun muda lagi perkasa

 

Hang Jebat Hang Kesturi

Budak-budak raja Melaka

Jika hendak jangan dicuri

Mari kita bertentang mata

 

Kalau orang menjaring ungka

Rebung seiris akan pengukusnya

Kalau arang tercorong kemuka

Ujung keris akan penghapusnya

 

Redup bintang haripun subuh

Subuh tiba bintang tak nampak

Hidup pantang mencari musuh

Musuh tiba pantang ditolak

 

Esa elang kedua belalang

Takkan kayu berbatang jerami

Esa hilang dua terbilang

Takkan Melayu hilang dibumi

 

Pantun Kias

Ayam sabung jangan dipaut

Jika ditambat kalah laganya

Asam digunung ikan dilaut

Dalam belanga bertemu juga

 

 

 

Berburu kepadang datar

Dapatkan rusa belang kaki

Berguru kepalang ajar

Bagaikan bunga kembang tak jadi

 

Anak Madras menggetah punai

Punai terbang mengirap bulu

Berapa deras arus sungai

Ditolak pasang balik kehulu

 

Kayu tempinis dari kuala

Dibawa orang pergi Melaka

Berapa manis bernama nira

Simpan lama menjadi cuka

 

Disangka nenas di tengah padang

Rupanya urat jawi-jawi

Disangka panas hingga petang

Kiranya hujan tengah hari

 

Pantun Nasihat

Kayu cendana di atas batu

Sudah diikat dibawa pulang

Adat dunia memang begitu

Benda yang buruk memang terbuang

 

Kemuning di tengah balai

Bertumbuh terus semakin tinggi

Berunding dengan orang tak pandai

Bagaikan alu pencungkil duri

 

Parang ditetak kebatang sena

Belah buluh taruhlah temu

Barang dikerja takkan sempurna

Bila tak penuh menaruh ilmu

 

Padang temu padang baiduri

Tempat raja membangun kota

Bijak bertemu dengan jauhari

Bagaikan cincin dengan permata

 

Ngun Syah Betara Sakti

Panahnya bernama Nila Gandi

Bilanya emas banyak dipeti

Sembarang kerja boleh menjadi

 

Jalan-jalan ke kota Blitar

jangan lupa beli sukun

Jika kamu ingin pintar

belajarlah dengan tekun

 

Pantun Percintaan

Coba-coba menanam mumbang

Moga-moga tumbuh kelapa

Coba-coba bertanam sayang

Moga-moga menjadi cinta

 

Limau purut lebat dipangkal

Sayang selasih condong uratnya

Angin ribut dapat ditangkal

Hati yang kasih apa obatnya

 

Ikan belanak hilir berenang

Burung dara membuat sarang

Makan tak enak tidur tak tenang

Hanya teringat dinda seorang

 

Anak kera di atas bukit

Dipanah oleh Indera Sakti

Dipandang muka senyum sedikit

Karena sama menaruh hati

 

Ikan sepat dimasak berlada

Kutunggu di gulai anak seberang

Jika tak dapat di masa muda

Kutunggu sampai beranak seorang

 

Kalau tuan pergi ke Tanjung

Kirim saya sehelai baju

Kalau tuan menjadi burung

Sahaya menjadi ranting kayu.

 

Kalau tuan pergi ke Tanjung

Belikan sahaya pisau lipat

Kalau tuan menjadi burung

Sahaya menjadi benang pengikat

 

Kalau tuan mencari buah

Sahaya pun mencari pandan

Jikalau tuan menjadi nyawa

Sahaya pun menjadi badan.

 

Pantun Peribahasa

Berakit-rakit kehulu

Berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

Bersenang-senang kemudian

 

Ke hulu memotong pagar

Jangan terpotong batang durian

Cari guru tempat belajar

Jangan jadi sesal kemudian

 

Kerat kerat kayu diladang

Hendak dibuat hulu cangkul

Berapa berat mata memandang

Barat lagi bahu memikul

 

Harapkan untung menggamit

Kain dibadan didedahkan

Harapkan guruh dilangit

Air tempayan dicurahkan

 

Pohon pepaya didalam semak

Pohon manggis sebasar lengan

Kawan tertawa memang banyak

Kawan menangis diharap jangan

 

Pantun Perpisahan

Pucuk pauh delima batu

Anak sembilang ditapak tangan

Biar jauh dinegeri satu

Hilang dimata dihati jangan

Bagaimana tidak dikenang

Pucuknya pauh selasih Jambi

Bagaimana tidak terkenang

Dagang yang jauh kekasih hati

 

Duhai selasih janganlah tinggi

Kalaupun tinggi berdaun jangan

Duhai kekasih janganlah pergi

Kalaupun pergi bertahun jangan

 

Batang selasih mainan budak

Berdaun sehelai dimakan kuda

Bercerai kasih bertalak tidak

Seribu tahun kembali juga

 

Bunga Cina bunga karangan

Tanamlah rapat tepi perigi

Adik dimana abang gerangan

Bilalah dapat bertemu lagi

 

Kalau ada sumur di ladang

Bolehlah kita menumpang mandi

Kalau ada umurku panjang

Bolehlah kita bertemu lagi

 

Pantun Teka-teki

Kalau tuan bawa keladi

Bawakan juga si pucuk rebung

Kalau tuan bijak bestari

Binatang apa tanduk dihidung ?

 

Beras ladang sulung tahun

Malam malam memasak nasi

Dalam batang ada daun

Dalam daun ada isi

 

Terendak bentan lalu dibeli

Untuk pakaian saya turun kesawah

Kalaulah tuan bijak bestari

Apa binatang kepala dibawah ?

 

Kalau tuan muda teruna

Pakai seluar dengan gayanya

Kalau tuan bijak laksana

Biji diluar apa buahnya

 

Tugal padi jangan bertangguh

Kunyit kebun siapa galinya

Kalau tuan cerdik sungguh

Langit tergantung mana talinya ?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: