Murniasihmu

Mari Belajar Ilmu Pasti : Manfaatkan Internet Sebagai Media Pembelajaran

BILANGAN DAN RAHASIA DIBALIKNYA

Bilangan 0, Sebuah Ketiadaan

Beberapa ahli matematika berpendapat bilangan nol diciptakan di india. Namun sampai sekarang belum ada orang yang mengetahui secara pasti sejarah penciptaan bilangan nol. Kita hanya dapat mengetahui bahwa bilangan nol sudah ada pada abad ke-6 SM, karena bilangan nol telah muncul dalam tulisan pada waktu itu. Pada saat itu bilangan nol dikenal dengan istilah “sunya” yang berarti kosong.

 Bilangan 1, Sebuah Permulaan

Menurut Pythagoras, 1 adalah asal mula dari seluruh bilangan. Sekali pun merupakan bilangan ganjil, ia memandang bilangan ini bersifat maskulin dan feminim, walaupun lebih cendrung dekat dengan maskulin. Jika ditambahkan bilangan maskulin, 1 menghasilkan bilangan feminim, misalkan 3 + 1 = 4. Sebaliknya, jika ditambahkan bilangan feminism, 1 menghasilkan bilangan maskulin, misalnya  4 + 1 = 5.  Bagi mistikus Islam, nilai numeric bilangan 1 untuk huruf alif, yaitu huruf pertaman dalam alphabet Arab dan huruf pertama dalam nama allah. Para mistikus Islam ini berpendapat huruf ini mengandung semua kearifan dan pengetahuan.

 Bilangan 2, Sebuah Perpecahan

Dua adalah keraguan, perpecahan, perselisihan, dan pertikaian. Dua adalah buah kembar di ranting , manis dan pahit. Ruckert merangkai kata – kata cerdas ini dalam bukunya “The Wisdom of The Brahmin” untuk banyaknya sifat negative yang dimiliki oleh bilangan 2. Dalam tradisi – tradisi keagamaan, 2 berarti perpecahan, terbelahnya keesaan suci yang mutlak. Oleh karena itu, 2 merupakan bilangan yang menyangkut dunia makhluk. Sebagaimana pendapat Valentin Weigel pada abad ke-16, “makhluk itu dengan sendirinya berwatak ganda”. Dalam kepercayaan yan dianut masyarakat luas, kita menjumpai ada perasaan takut pada bilangan 2. Orang tidak boleh melakukan hal secara bersamaan, menikah pasangan pada hari yang sama, selain sifat negative ini, bilangan 2 juga punya sifat positif. Misalnya, dalam penafsiran Kristen Abad Pertengahan, bilangan ini menunjuk pada dua perintah untuk mencintai Tuhan dan mengasihi sesame.

 Bilangan 3, Sebuah Keutuhan

Menurut pythagoras, bilangan 3 merupakan bilangan nyata pertama dan bilangan pertama yang memiliki bentuk feometris karena 3 titik menutup segitiga. Bidang pertama inilah yang dapat ditangkap oleh indera kita. Pythagoras mengartikan segitiga sebagai awal perkembangan alam kosmis karena bentuk – bentuk geometris seperti persegi dan bintang enem dapat dibentuk darinya. Karakter mistirius bilangan 3 sering dituangkan ke dalam puisi, seperti dalam sepmaine yang terkenal sebagai karya pemikir prancis abad ke-16, Du Bartes berikut ini

Bilangan janjil tertua, bilangan

Tuhan setepatnya

Bilangan langit kekasih yang

Titik tengahnya tertutup

Berjarak sama dari kedua

Tepinya

Bilangan pertama yang

Mempunyai awal, tengah dan

Akhir

 Bilangan 4, Sebuah Keidealan

Dalam tradisi klasik, perhatian yang besar pada bilangan 4 sebagai bilangan ideal digambarkan secara jelas dalam ajaran – ajaran Pythagoras. Menurut Pythagoras, bilangan 4 menawarkan sebuah bentuk geometris yang dapat dikenali dengan mudah dan jelas. Karenanya bentuk – bentuk bidang empat, khususnya persegi dianggap sebagai bentuk yang sempurna. Bahkan dulu di Inggris, orang – orang menyebut manusia persegi untuk menggambarkan manusia ideal. Dengan memanfaatkan ide – ide Pythagoras, para pendeta gereja dan filsuf Eropa abad pertengahan menemukan banyak bentuk tetra dari 4 unsur yang menjadi fungsi piñata sampai 4 watak yang menjelaskan aneka ragam kekuatan psikologis manusia.

 Bilangan 5, Bilangan Cinta

Dalam matematika murni yang dikenalkan oleh Pythagoras, bilangan 5 dipandang sebagai bilangan yang paling tepat untuk mengungkapkan paduan antara laki – laki dan perempuan karena bilangan 5 adalah sebuah paduan yang tak terpisahkan antara 3 yang maskulin dan 2 yang feminism. Oleh karena itulah, 5 sering disebut bilangan cinta atau bilangan pernikahan. Dari kacamata astronomi, bilangan 5 memegang peranan penting dalam proses – proses astronomi pada umumnya. Tahun matahari kuno yang disusun berdasarkan bilangan 60, dapat dibagi menjadi 5 x 72 hari. Kemudian diubah menjadi satu tahun matahari yang benar, yaitu 365 hari. Untuk melengkapinya 360 ditambahkan 5 hari baru yang disebut epagomenei. Berdasarkan sebuah mitos kuno, Plutarch menceritakan bagaimana terbentuknya 5 hari itu. Hellios, dewa matahari, mengutuk Rheakarena telah menghianatinya . helios mengutuk Rhea tidak akan bisa melahirkan buah dari kisah cinta gelapnya dengan dewa matahari maupun dewa bulan. Namun Hermes, yang cerdas menyelamatkan Rhea. Setelah memenangkan judi dengan dewa bulan, ia mendapatkan 70 detik setiap harinya sehingga dalam 360 hari, ia mendapatkan 5 hari yang terlepas dari jangkauan matahari maupun bulan. Ini berarti Rhea, terkecualikan dari kutukan Helios. Sepertinya secara kebetulan pula, pada zaman kuno dalam satu minggu terdapat 5 hari.

 Bilangan 6, Bilangan Sempurna

Menurut system – system kuno dan neoplatanik, 6 adalah bilangan yang paling sempurna karena merupakan penjumlahan dan hasil perkalian factor – faktornya. Bilangan 6 adalah hasil penjumlahan dari 1 + 2 + 3 dan hasil perkalian dari 1 x 2 x 3. Selain itu, 6 merupakan hasil perkalian dari bilangan maskulin pertama, yaitu 2, dengan bilangan feminism pertama yaitu 3. Bilangan 6 merangkum semua bentuk geometris, yaitu titik, garis, dan bidang. Para ahli tafsir injil merasa senang setelah menemukan sifat – sifat matematis ini karena mereka tahu bahwa Tuhan menyempurnakan proses penciptaan-Nya dalam waktu 6 hari. Dewa Agustinus pun mempunyai pendapat serupa. Ia bahkan berhasil membagi 6 hari tersebut menjadi 3 bagian sebagai berikut.

  • Pada hari pertama, Tuhan menciptakan cahaya
  • Pada hari kedua dan ketiga, Tuhan menciptakan langit dan bumi
  • Pada tiga hari terakhir, Tuhan menciptakan makhluk individual, mulai dari ikan sampai manusia laki – laki dan perempuan.

Pernyataan penciptaan selama 6 hari ini mengiring manusia untuk mengatur 6 hari kerja dalam seminggu sehingga 1 hari adalah hari libur.

 Bilangan 7, Pilar – pilar Kearifan

Bilangan 7 telah mempesona manusia sejak zaman dahulu. Dalam sebuah study yang bertajuk “seven: The Number of Creation” Desmond Varley berusaha meringkas segala sesuatu di dunia nyata ini menjadi bilangan 7. Menurutnya, sebenarnya dunia ini tersusun atas tiga prinsip kreatif dan empat unsure kekuatan sensual yang laras. Ketiga prinsip kreatif tersebut adalah intelek aktif, bawah sadar pasi, dan kekuatan piñata kerja sama. Fsementara keempat unsure kekuatan sensual yang selaras tersebut adalah udara=kecerdasan, api=kehendak, air=emosi, dan tanah=moral. Pembagian 7 menjadi dua prinsip penyusun yakni 3 spiritual dan 4 material, telah dilakukan sejak zaman dahulu. Sementara itu, Pseudo-hippocrates menegaskan, bilangan 7 dengan kearifan gaibnya cenderung membuat segala sesuatu menjadi ada. Bilangan 7 adalah mesin pembuat kehidupan dan sumber dari semua perubahan.

 Bilangan 8, Bilangan keberuntungan

Pada zaman dahulu bilangan 8 dipandang menarik karena alas an – alas an matematis semata. Para matematikawan Yunani Kuno menemukan bahwa setiap bilangan ganjil di atas 1 bila dikuadratkan akan menghasilkan perkalian 8 ditambah 1. Misalnya , 52 = 25 = 8 x 3 + 1, yang dituangkan dalam rumus U2 = 8 x n +1. Mereka juga menemukan bahwa selisih semua kuadrat bilangan ganjil diatas 1 yang berbeda merupakan kelipatan 8. Misalnya, 92 – 72 = 81 – 49 = 32. Kalian sudah mengetahui bahwa 32 adalah kelipan 8. Sebenarnya bilangan 8 lebih menarik dari sekedar rumusan matematis. Pada zaman dahulu, bilangan 8 dianggap sebagai bilangan keberuntungan karena merupakan bilangan para dewa. Sebagai bilangan para dewa, bilangan 8 sudah ditemukan di Babilonia Kuno. Di kuil –kuil Babilonia, dewa tinggal di dalam sebuah ruangan gelap pada gedung ke delapan. Ide bilangan 8 sebagai bilangan keberuntungan tergambar dalam tradisi India dan Cina. Dalam tradisi India, bunga teratai bermahkota 8 menggambarkan keberuntungan dan kebahagiaan. Di Cina, bilangan 8 juga sangat dihargai , bukan hanya karena 8 simbol Buddhisme tetapi juga 8 ajaran mulia Konfusianisme.

 Bilangan 9, Bilangan Pesakitan

Bilangan 9 dapat diartikan bermacam – macam. Pada suatu ketika, aspek negatiflah yang ditekankan. Misalnya oleh Petrus Bungus, yang menyamakan 9 dengan sakit dan kesedihan, serta yang manyatakan bahwa mazmur kesembilan berisi ramalan Antikritus. Bilangan 9 lagi – lagi dikaitkan dengan penderitaan karena fakta menunjukkan bahwa Kristus meninggal pada jam 9. Oleh sebab itulah, jam 9 dianggap sebagai ketiadaan.

 Bilangan 13, Ditakuti

Dalam sebuah artikel yang sangat menarik dengan judul “triskaedeka-phobia” ( ketakutan pada bilangan 13 ), Paul Hoffman menulis di Smithsonian Magasine, Februari 1987 bahwa fobia yang namanya sulit dieja itu menelan biaya satu miliar dolar amerika per tahun karena menyebabkan orang mangkir bekerja, pembatalan keberangkatan kereta api dan pesawat terbang, serta mengurangi aktivitas perdagangan pada tanggal 13 disetiap bulan. Sejak berabad-abad yang lalu, bilangan 13 ini dianggap bersifat negative dalam kepercayaan masyarakat. Orang enggan mengundang 13 tamu dalam jamuan makan malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: